Nuzulul Qur’an atau Hari Turunnya Al-Qur’an menjadi salah satu momen penting dalam kalender keislaman. Perayaannya diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari pengajian hingga perayaan komunitas Muslim. Tapi, ternyata penanggalan perayaan Nuzulul Qur’an bisa berbeda tergantung lembaga yang menetapkan. Misalnya, Muhammadiyah dan pemerintah Indonesia punya pendapat yang berbeda soal kapan tepatnya momen ini dirayakan.
Perbedaan ini bukan hal baru. Sejak lama, perbedaan penanggalan antara berbagai lembaga Islam memang kerap terjadi, terutama terkait penentuan hari besar keislaman yang bersifat tahunan. Tahun 2026 pun akan kembali jadi sorotan karena ada dua versi tanggal Nuzulul Qur’an yang beredar. Penasaran kapan tanggal resminya menurut masing-masing pihak? Yuk, kita kupas lebih dalam.
Tanggal Nuzulul Qur’an Menurut Muhammadiyah dan Pemerintah
Penentuan tanggal Nuzulul Qur’an sebenarnya mengacu pada peristiwa turunnya wahyu Al-Qur’an secara keseluruhan dari Lauh Mahfuzh ke dunia. Namun, karena tidak ada tanggal pasti dalam sejarah, maka lembaga-lembaga Islam punya metode tersendiri dalam menetapkan momen ini.
1. Tanggal Nuzulul Qur’an Versi Pemerintah
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama biasanya mengikuti penanggalan dari kalender Hijriah yang disinkronkan dengan kalender Masehi. Untuk tahun 2026, Kementerian Agama menetapkan Nuzulul Qur’an jatuh pada:
Tanggal: 17 Mei 2026
10 Syawal 1447 H
Tanggal ini biasanya dirayakan oleh berbagai institusi pemerintah, sekolah, dan organisasi Islam yang mengacu pada penetapan resmi negara. Acara perayaan pun sering digelar di masjid-masjid besar atau pusat kegiatan keislaman lainnya.
2. Tanggal Nuzulul Qur’an Versi Muhammadiyah
Sementara itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah memiliki pendapat tersendiri dalam menetapkan tanggal Nuzulul Qur’an. Mereka mengacu pada perhitungan kalender Islam yang berbeda, terutama dalam menentukan awal bulan dan hari-hari penting lainnya.
Untuk tahun 2026, Muhammadiyah menetapkan Nuzulul Qur’an jatuh pada:
Tanggal: 16 Mei 2026
9 Syawal 1447 H
Perbedaan satu hari ini mungkin terdengar sepele, tapi bagi kalangan Muhammadiyah, tanggal ini punya makna tersendiri. Banyak anggota organisasi ini yang merayakan Nuzulul Qur’an sesuai dengan penetapan internal mereka, bukan dari pemerintah.
Mengapa Ada Perbedaan Penanggalan?
Perbedaan penanggalan ini bukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan dua lembaga besar ini menetapkan tanggal yang berbeda.
1. Metode Penentuan Awal Bulan
Salah satu penyebab utama adalah metode penentuan awal bulan Hijriah. Pemerintah cenderung menggunakan metode hisab dan rukyat secara bersamaan, sementara Muhammadiyah lebih mengandalkan hisab atau perhitungan matematis.
2. Pandangan Terhadap Penanggalan Historis
Muhammadiyah juga punya pandangan tersendiri soal kapan sebenarnya Al-Qur’an mulai diturunkan. Mereka menilai bahwa momen itu terjadi pada malam ke-27 Ramadan, yang kemudian dirayakan sebagai Lailatul Qadar, bukan pada tanggal tertentu di bulan Syawal.
3. Sinkronisasi Kalender Hijriah
Sinkronisasi antara kalender Hijriah dan Masehi juga bisa berbeda tergantung lembaga. Ini menyebabkan pergeseran tanggal yang dirasakan oleh masyarakat luas.
Perayaan Nuzulul Qur’an: Tradisi yang Tetap Dijaga
Meski ada perbedaan tanggal, perayaan Nuzulul Qur’an tetap menjadi bagian penting dari tradisi keislaman di Indonesia. Berbagai kegiatan digelar untuk memperingati momen ini, baik di tingkat komunitas maupun nasional.
1. Pengajian dan Ceramah Keagamaan
Salah satu bentuk perayaan yang paling umum adalah pengajian. Biasanya diisi dengan ceramah tentang pentingnya menjaga Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
2. Lomba-Lomba Keislaman
Di sekolah-sekolah dan pesantren, biasanya diadakan lomba membaca Al-Qur’an, lomba tilawah, atau lomba hadrah sebagai bentuk apresiasi terhadap kitab suci ini.
3. Perayaan Komunitas
Berbagai komunitas Muslim juga menggelar acara khusus, seperti buka bersama, tabligh akbar, atau kegiatan sosial lainnya yang mengedepankan nilai-nilai keislaman.
Tabel Perbandingan Tanggal Nuzulul Qur’an 2026
| Lembaga | Tanggal Masehi | Tanggal Hijriah |
|---|---|---|
| Pemerintah | 17 Mei 2026 | 10 Syawal 1447 H |
| Muhammadiyah | 16 Mei 2026 | 9 Syawal 1447 H |
Tips Menyambut Nuzulul Qur’an dengan Makna
Menyambut Nuzulul Qur’an bukan sekadar soal mengikuti tanggal yang ditetapkan. Ada nilai-nilai spiritual yang bisa diambil dari momen ini.
1. Meningkatkan Kedekatan dengan Al-Qur’an
Gunakan momen ini untuk memperdalam hubungan dengan Al-Qur’an. Bisa dengan membaca, memahami, atau bahkan menghafalnya.
2. Mengamalkan Isi Al-Qur’an
Tidak cukup hanya membaca. Mencoba mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari adalah bentuk penghormatan yang lebih bermakna.
3. Berbagi dengan Sesama
Nuzulul Qur’an juga bisa dijadikan momentum untuk berbagi kebahagiaan dan manfaat dengan sesama, terutama yang membutuhkan.
Disclaimer
Tanggal dan penanggalan dalam kalender Islam bisa berubah tergantung metode penentuan awal bulan serta faktor astronomi lainnya. Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang tersedia hingga April 2025. Untuk kepastian tanggal, sebaiknya selalu merujuk pada pengumuman resmi dari lembaga terkait menjelang bulan Syawal 1447 H.
Perayaan Nuzulul Qur’an tahun 2026 akan menjadi momen penting bagi umat Islam di Indonesia. Meski ada perbedaan penanggalan antara pemerintah dan Muhammadiyah, inti dari perayaan ini tetap sama: menghormati dan memuliakan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Semoga momen ini bisa menjadi sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.